Dusun Manca

Capture+_2017-06-22-21-26-40Sesaat sebelum tarawih, Cak Bilal memimpin para jamaah untuk mengirim do’a kepada mbah Ji’un. Si Mariyah yang sejak tadi tidak tau siapa mbah Ji’un dan mengapa perlu dikirimi doa lantas bertanya pada mak Yah. “Kangge sinten mak Yah?” (Buat siapa mak Yah?). “Mbah Ji’un, sing nggadah tanah niki” (Mbah Ji’un pemilih tanah ini) sambil menunjuk kebawah lantai musholla Nurul Hidayah yang mereka pergunakan untuk sholat ini. Mariyah langsung membulatkan mulutnya dengan anggukan kepala.
Rasa keingintahuan Mariyah berlanjut ketika di rumah. Mariyah masih penasaran siapa sosok mbah Ji’un orang yang dengan ikhlas menyumbangkan -lebih tepatnya mewakafkan- tanah miliknya untuk dibangun sebuah Musholla di Desa ini. Rasa penasaran Mariyah akhirnya terjawab dengan cerita yang dituturkan oleh Bapaknya.

Dulu hiduplah seorang Mantri hewan bernama Pak Ji’un. Pak Ji’un merupakan sosok yang pintar di Dusun ini dan sangat disegani masyarakat. Pak Ji’un ternyata adik dari Pak Kandek yang rumahnya (sekarang) berada di depan musholla. Namun Pak Ji’un tidak tinggal di Dusun ini, tidak setelah menjelang masa tuanya. Dulu Pak Ji’un pernah mencalonkan diri sebagai Lurah. Pendukung Pak Ji’un sangat banyak, pantas saja karena beliau memang sosok yang disegani. Salah satu pendukung Pak Ji’un adalah Mbah Siman tak lain Mbahnya si Mariyah. Mbah Siman menghabiskan seluruh hartanya untuk taruhan. Mbah Sima sangat percaya kalau Pak Ji’un yang akan memenangkan pemilihan lurah karena pamornya yang tak diragukan lagi. Namun hasil menunjukkan kenyataan yang mencengangkan, Pak Ji’un mengundurkan diri sebagai calon lurah sebab lawannya adalah adik Pak Camat sendiri. Padahal adik Pak Camat tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kepintaran Pak Ji’un.
Dari masalah inilah akhirnya warga dusun selalu mengkait-kaitkan segala sesuatu dan timbullah mitos yang  menyatakan bahwa warga Dusun Gedang -Dusun dimana Mariyah tinggal- tidak akan bisa menjadi apa apa atau tidak akan sukses di Dusunnya sendiri. Meskipun begitu, tak perlu diragukan lagi bahwa warga Dusun Gedang rata-rata memiliki kepintaran diatas rata-rata dibandingkan Dusun lainnya. Namun entah mengapa tidak ada satupun perangkat desa maupun pemuka agama atau pemuka masyarakat yang berasal dari Dusun Gedang. Mitos ini dipercayai dan menjadi kenyataan. Bapak mudin, Bapak sekdes, Bapak Imam, Bapak Kasun, dan Bapak-bapak lainnya yang menjabat di Dusun ini berasal dari luar atau orang menyebutnya dengan istilah “Wong Manca”.
Entah sampai kapan mitos ini akan berlanjut, yang pasti karena munculnya mitos ini banyak orang tua warga asli Dusun Gedang yang memerintahkan anak-anak mereka untuk merantau agar bisa menjadi sukses dan hal ini sudah dibuktikan banyak generasi muda Dusun Gedang.
Dari cerita yang begitu panjang akhirnya si Mariyah mengeluarkan celotehan yang entah bisa dibilang lucu atau malah miris
“Lalu Pak, Mariyah kan anak Dusun sini….”

Dusun Gedang, 22 Juni 2017

Advertisements

Hans, Not sale

Siapa yang tak kenal Jong Ki oppa. Aktor korea yang sukses membuat hati setiap wanita meleleh dan saling berteriak mengaguminya. Tubuh tegap tinggi proporsional dan yang  paling menggemaskan adalah babyface nya. Ditambahkan dengan senyum yang mengembang menambah ketampanannya. Aduduh, alamak wanita mana yang tak memimpikannya.

Saya punya pengalaman lucu dengannya. Dengannya, iya dengannya Soo Jong Ki Oppa. Tak pernah diduga, bak ikan yang muncul dan hidup didaratan, di kota tempatku tinggal Jong Ki oppa datang. Kedatangannya memberi suasana yang berbeda. Kedatangannya mampu memekarkan bunga yang kuncup dan mampu menyemaikan dahan – dahan yang kering kerontang. Semua orang merasa kegirangan karena kotanya didatangi orang tampan se Korea (relatif lah ya haha). Tak ada yang tau kapan ia datang dan dimana ia akan menginap. 

Dewi Fortuna memihak kepadaku. Maksud kedatangannya adalah penjurian sebuah kontes yang aku sendiri pun tak tau kontes apa.  Kontes tersebut diselenggarakan tepat didepan rumahku. Sehingga membuat suasananya berubah 180 derajat. Yang biasanya sepi sekali, sekarang menjadi ramai riuh dipadati orang yang tak sabar ingin menyambut Jong Ki Oppa. Tidak disangka sangka, amat sangat tidak bisa disangka, Jong Ki Oppa mendatangi rumahku dan meminta ijin untuk menyewa ruang tamuku untuk ia dan crewnya mempersiapkan acara. Bagaimana tidak meleleh. Tapi sebagai penggemar yang memiliki etika (tsaaaah), aku bersikap sewajarnya dan tidak terlalu ekstrim menunjukkan wajah girang. Sedikit  jaim boleh lah ya. Seperti di drama-drama korea, wanita yang cuek dialah tokoh utamanya. 

Untuk makan siang, ibuku menyiapkan ikan untuk digoreng. Ibuku menyuruh mereka (para tamu dari negara nan jauh disana) untuk menggoreng sendiri sesuai selera mereka. Mereka bebas memilih ikan mana yang akan disantap. Kelucuan muncul disini. Para tamu itu, memilih sambal trasi untuk mendampingi ikan goreng yang disajikan. Mereka menggoreng sendiri mulai dari ikan, bahan sambal, sampai menyediakan nasi sendiri. Termasuk Jong Ki Oppa. Haha lucu kan???

Pada saat giliran Jong Ki Oppa yang memasak, semua berjalan lancar. Ikan yang digoreng matang sempurna. Berbagai bahan sambel juga telah digorengnya, menunggu giliran untuk digilas menggunakan cobek serta ulek.  Namun ia mengalami kesulitan pada saat mengulek sambel. Aku hanya memperhatikan dengan menahan tawa. Bagaimana bisa orang Korea jauh-jauh datang kesini hanya untuk ngulek sambel. Dia bingung hendak memulai dari mana. Lalu ia menatapku dengan kedua tangan mengangkat dan wajahnya itu begitu lucu saat menunjukkan ekspresi “aku menyerah”. Hahahahaha, aku langsung tertawa terbahak-bahak. Ia hanya menggaruk kepalanya. Lalu aku mendatanginya kemudian mengambil alih ulek dan cobeknya. “Can’t you do this?” aku menanyainya sambil memperagakan cara mengulek yang benar. Dia hanya tersenyum kepadaku. Lalu aku menyiapkan nasi serta ikan yang telah digorengnya. Dan sentuhan terakhir “You have to add some lemon (jeruk nipis) to this sambel”. Ia hanya mengangguk dan tentu saja sambil melempar senyuman kepadaku dengan tangan yang menyilang didada. Ia sangat berterima kasih. Lalu aku mempersilahkannya untuk makan.

Siang datang, kontes segera dimulai. Aku menonton dan menyemangati Jong Ki Oppa dari teras rumahku. Dan ia membalasku dengan lambaian tangan. Serasa seperti orang yang diistimewakan (jangan iri ya) aduuh meleleh… 

Tiba-tiba salah satu juri mendatangiku dan memberi secarik kertas. Ia bilang untuk segera menghubungiku lewat nomor yang tertulis di kertas itu. Dalam kertas itu hanya tertuliskan “Hans, not Sale”. Aku tak mengerti maksudnya. Aku mencoba membaliknya berulang kali tapi tak ada tanda-tanda tertuliskan nomor ponsel. Dan ketidak jelasan ini membawaku pada suara yang berdering tepat disebelah telingaku. Dering itu diperjelas dengan suara Ibu yang memanggilku “Nduk bangun”

Hahahahaha begitu konyol bukan? Semua itu hanya mimpi belaka. Setiap aku mengingatnya, aku selalu terbahak-bahak. 

Terima kasih Jong Ki Oppa yang telah singgah di mimpi gadis penghayal ini. 😂

Jombang, 26 April 2017

Maafkan Aku dan Tanggung Jawabku

Antara ikhlas, sedih, terharu, dan menyesal. Tidak kedatanganku bukan menandakan ke tidak pekaanku. Bukan juga kebencian atau ketidaksukaan kepada kalian. Bukan. Pertanggungjawabanku dirumah lebih memaksaku menetap. Bukan aku tidak mau berusaha. Bukan. 

Sudah ku upayakan kehadiranku. Aku mencoba terus mengarahkan gerigi gerigi otakku menuju jalan yang positif. Namun, surutlah kepositifan itu setelah waktu berlalu hingga pukul 13:30. Pandanganku hanya tertuju pada jendela kayu yang sudah mulai lapuk. Berharap kedatangan mobil ambulan yang tadi pagi terparkir di halaman rumah. Rasa cemas dan sedih mulai menggerogoti pikiranku. Bagaimana jika…

Aku tidak bisa pergi?

Aku menjadi perbincangan yang lainnya?

Aku menjadi kaum yang terbawa arus ketidak pekaan?

Aku menjadi sosok yang terlupakan?

Dan bagaimana jika….

Semua pertanyaan itu saling menderu dipikiranku dan merambat ke perasaanku. Perasaanku kalut.

Tiba-tiba si anak bungsu menarik kaosku dan mengatakan kalau dia lapar dan meminta di buatkan telur ceplok. Batinku awalnya menolak tapi aku menanyakan kembali pada diriku. Lalu siapa? Ya, siapa? Baiklah, akan ku lakukan. Disaat si bungsu makan, hujan deras datang tanpa disangka. Padahal langit sebelumnya sangat cerah. Mbahku dari luar rumah sontak berteriak minta tolong. Aku kaget. Aku langsung segera bergegas keluar rumah dan melihat mbahku kehujanan karena padi yang ia jemur sudah tergenang air. Tapi tak apalah, padi masih bisa terselamatkan. Alhasil, aku basah kuyup. 

Memang tidak ada yang bisa disangka seperti halnya waktu telah menunjukkan pukul 14:30. Waktu terus berjalan dan belum ada tanda ambulan datang. Ponselku berdering, ternyata telfon dari si Mas. Mas mengingatkan tentang pembelian papan tulis untuk keperluan nyinauni (membimbing belajar) anak-anak desaku. Lagi-lagi, aku bimbang. Berangakat atau menetap? Baiklah akan ku lakukan misi ini dulu. Keberangkatan akan ku pikir nanti. Aku bergegas sholat ashar  karena telah memasuki waktunya. 

Selang waktu beberapa detik setelah usai sholat, Din… Din… Din… Sepertinya ambulan sudah datang, alhamdulillah. Aku segera melepas mukena dan bergegas keluar. Mbahku datang bersama ibuk dan kedua bibiku. Aku langsung menanyakan bagaimana check up tadi. Wajah ibuk menunjukkan raut sangat kekelahan. Kata ibu tadi si Mbah dapat nomor antrian 16 padahal sampai di rumah sakit umum daerah masih jam 7:30. Katanya banyak yang pesan antrian lewat online. Mereka yang pesan online tak perlu ngantri berlama-lama. Apalah daya kami yang tidak tau. Jam 14.30 mbah baru masuk poli. Karena ibuk tidak membawa surat rujukan dari puskesmas, Dokter hanya melihat kondisi Mbah dan menyuruh Mbah datang lagi besok untuk melakukan foto rongsen dengan membawa surat rujukan. Ya Allah, berarti Mbah tadi belum diapa apain.

Aku menyilahkan Mbah, Ibuk, dan bibiku untuk melepas lelah setelah sekian lama menunggu namun nihil. Dan aku berpamit untuk membeli papan tulis. Sesampai di rumah sudah magrib. Aku terpaksa merelakan keberangkatanku untuk tetap menetap. Sehabis magrib, bocah-bocah desaku datang dan minta di sinaoni. Ada beberapa anak yang besok mengikuti try out kelulusan. Dan ada beberapa yang hanya belajar seperti biasa. Untungnya aku sempat mampir membeli buku persiapan ujian nasional seusai membeli papan. Dan malamku ku habiskan dengan brondongan pertanyaan yang memaksaku kembali mempelajari hal-hal dasar yang telah lama ku lupakan, dan bukan dengan kalian teman-teman. 

Sampai saat sebelum tidur pun hatiku rasanya tak bisa menerima. Jika aku tidak mengiyakan permintaan ibu untuk menjaga adikku a.k.a si bungsu, mungkin aku bisa merasakan keharuan bersama kalian. Namun setelah ku renungkan kembali. Aku tidak menyesal untuk memilih menetap meskipun awalnya terasa berat. Keberatan hatiku terkikis sedikit demi sedikit setelah melihat si bungsu kegirangan mendapat telur ceplok meskipun tidak ada ibuk, si Mbah putri yang merasa lega karena ada yang membantu menyelamatkan padi yang beliau jemur, bocah bocah yang tambah semangat belajar karena ada papan dan buku baru, serta ibu yang merasa berterima kasih karena si bungsu telah aku jaga. Hal-hal demikian memang bukan suatu yang peelu dibanggakan. Namun aku bersyukur karena sedikit kontribusiku merupakan hal yang sangat membantu orang-orang disekitarku.

Kadang memang kita harus mengorbankan keinginan kita untuk sebuah tanggung jawab. Meskipun keinginan itu sangat amat kita inginkan. Maafkan aku teman karena lebih memilih tanggung jawab dari pada kalian. Terima kasih karena kalian, perjalanan kampus lebih berwarna. 

Jombang, 14 Maret ’17